Sejumlah penelitian ilmiah mumi-mumi itu mencakup arkaeobati, arkaeozoologi, analisis isotop, arkeologi pertambangan, dan antropologi jasmani.
Semua itu telah membantu para ahli arkeologi untuk lebih mengerti tentang praktik-praktik pertambangan purba. Misalnya, berdasarkan artefak dan fakta lingkungan pada lapisan-lapisan garam, ditengarai ada 3 tahap pertambangan, yaitu pada masa Achaemenid, Sasania, dan Islam.
Penelitian lanjutan mengungkapkan bahwa praktik-praktik pertambangan diorganisas-masing periode.
Misalnya, pada masa Sasania, pertambangan didir-buruh asing di pertambangan. Tambang-tambang juga diakses dari tempat-tempat yang lebih jauh. Para buruh tambang bukan hanya penduduk setempat.

Penelitian-penelitian juga memberi telaah ulang terhadap fakta yang tadinya dikaitkan dengan para manusia garam tersebut.
Misalnya, walaupun dilaporkan adanya temuan 6 manusia garam, analisis anatomi mengungkapkan bahwa bagian-bagian tubuh mereka bukan berasal dari individu tunggal. Diduga, peninggalan yang ada berasal dari setidaknya 8 individu berbeda.
Walaupun sudah cukup banyak penelitian yang dilakukan terhadap manusia-manusia garam dan tambang itu sendiri, konservasi dan pelestarian peninggalan tersebut masih dirasa kurang.
Dalam laporan pada 2009, disebutkan mengenai pajangan mumi-mumi dalam kotak Plexiglas yang tidak tertutup rapat. Perubahan suhu dan tekanan udara luar lingkungan kemudian menimbulkan retakan pada kotak pajangan.
Sebagai akibatnya, bakteri dan serangga memasuki kotak pajangan dan mulai menggerogoti mumi-mumi tersebut. Untunglah sudah dilakukan sejumlah tindakan untuk mencegah kerusakan lanjutan.
Recent Comments